1. Tradisi
Pemberian Makan
2. Pola Pemberian ASI
Salah satu faktor yang secara langsung
dapat mempengaruhi kondisi kesehatan bayi adalah makanan yang diberikan. Dalam
setiap masyarakat ada aturan-aturan yang menentukan kuantitas, kualitas dan
jenis-jenis makanan yang seharusnya dan tidak seharusnya dikonsumsi oleh
anggota-anggota suatu rumah tangga, sesuai dengan kedudukan, usia, jenis
kelamin dan situasi-situasi tertentu.
Misalnya, ibu yang sedang hamil tidak
diperbolehkan atau dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tertentu; ayah yang
bekerja sebagai pencari nafkah berhak mendapatkan jumlah makanan yang lebih
banyak dan bagian yang lebih baik daripada anggota keluarga yang lain; atau
anak laki-laki diberi makan lebih dulu daripada anak perempuan. Walaupun pola
makn ini sudah menjadi tradisi ataupun kebiasaan, namun yang paling berperan
mengatur menu setiap hari dan mendistribusikan makanan kepada keluarga adalah
ibu; dengan kata lain ibu mempunyai peran sebagai gate-keeper dari keluarga.
2. Pola Pemberian ASI
Walaupun
pada masyarakat tradisonal pemberian ASI bukan merupakan permasalahan yang
besar karena pada umumnya ibu memberiakan bayinya ASI, namun yang menjadi
permasalahan adalah pola pemberian ASI yang tidak sesuai dengan konsep medis
sehingga menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan pertumbuhan bayi.
Di
samping pola pemberian yang salah, kualitas ASI juga kurang. Hal ini disebabkan
banyaknya pantangan terhadap makanan yang dikonsumsi si ibu baik pada saat
hamil maupun sesudah melahirkan. Sebagai contoh, pada masyarakat Kerinci, ibu
yang sedang menyusui pantang untuk menonsumsi bayam, ikan laut atau sayur
nangka.
Di
beberapa daerah ada yang memantangkan ibu yang menyusui untuk memakan telur.
Adanya pantangan makanan ini merupakan gejala yang hampir universal berkaitan
dengan konsepsi “panas dingin” yang dapat mempengaruhi keseimbangan unsur-unsur
dalam tubuh manusia, tanah, udara, api dan air. Apabila unsure-unsur di dalam
tubuh terlalu panas atau terlalu dingin maka akan menimbulkan penyakit. Untuk
mengembalikan keseimbangan unsur-unsur tersebut maka seseorang harus
mengkosumsi makanan atau menjalani pengobatan yang bersifat lebih “dingin” atau
sebaliknya. Pada beberapa suku bangsa, ibu yang sedang menyusui kondisi
tubuhnya di pandang dalam keadaan “dingin” sehingga ia harus memakan makanan
yang “panas” dan menghindari makanan yang “dingin”. Hal ini sebaliknya harus
dilakukan oleh ibu yang sedang hamil.
3. Pengobatan
dan Penyakit
Masalah
kesehatan selalu berkaitan dengan dua hal, yaitu sistem teori penyakit dan
sistem perawatan penyakit. Sistem teori penyakit lebih menekankan pada penyebab
sakit, teknik-teknik pengobatan penyakit. Sementara sistem perawatan penyakit
merupakan suatu institusi sosial yang melibatkan interaksi beberapa orang,
paling tidak interaksi antar pasien dengan si penyembuh, apakah itu dokter atau
dukun. Persepsi terhadap penyebab penyakit akan menentukan cara pengobatannya.
Penyebab penyakit dapat dikategorikan ke dalam dua golongan, yaitu
personalistik dan naturalistik. Penyakit-penyakit yang dianggap timbul karena
adanya intervensi dari agen tertentu seperti perbuatan orang, hantu, mahluk halus
dan lain-lain termasuk dalam golongan personalistik. Sementara yang termasuk
dalam golongan naturalistik adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh
kondisi alam seperti cuaca, makanan, debu dan lain-lain.
Dari
sudut pandang sistem medis modern adanya persepsi masyarakat yang berbeda
terhadap penyakit seringkali menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh ada
masyarakat pada beberapa daerah beranggapan bahwa bayi yang mengalami
kejang-kejang disebabkan karena kemasukan roh halus, dan hanya dukun yang dapat
menyembuhkannya. Padahal kejang-kejang tadi mungkin disebabkan oleh demam yang
tinggi, atau adanya radang otak yang bila tidak disembuhkan dengan cara yang
tepat dapat menimbulkan kematian.
Kepercayaan-kepercayaan
lain terhadap demam dan diare pada bayi adalah karena bayi tersebut bertambah
kepandaiannya seperti sudah mau jalan. Ada pula yang menganggap bahwa diare
yang sering diderita oleh bayi dan anak-anak disebabkan karena pengaruh udara,
yang sering dikenal dengan istilah “masuk angin”. Karena persepsi terhadap
penyakit berbeda-beda , maka pengobatannya pun berbeda-beda. Misalnya, di suatu
daerah di anggap bahwa diare ini disebabkan karena “masuk angin” yang
dipersepsikan sebagai “mendinginnya” badan anak maka perlu diobati dengan
bawang merah karena dapat memanaskan badan si anak.
Sesungguhnya
pola pemberian makanan pada anak, etiologi penyakit dan tindakan kuratif
penyakit merupakan bagian dari sistem perawatan kesehatan umum dalam
masyarakat. Dikatakan bahwa dalam sistem perawatan kesehatan ini terdapat
unsur-unsur pengetahuan dari sistem medis tradisional dan modern. Hal ini
terlihat bila ada anak yang menderita sakit, maka si ibu atau anggota keluarga
lain akan melakukan pengobatan sendiri (self
treatment) terlebih dahulu, apakah itu dengan menggunakan obat tradisional
ataupun obat modern. Tindakan pemberian obat ini merupakan tindakan pertama
yang paling sering dilakukan dalam upaya mengobati penyakit dan merupakan satu
tahap dari perilaku mencari penyembuhan atau kesehatan yang dikenal sebagai “health seeking behavior”. Jika upaya
ini tidak berhasil, barulah dicari upaya lain misalnya membawa ke petugas
kesehatan seperti dokter, mantra dan lain-lain. Mitos
yang berkembang di masyarakat di antaranya, yaitu:
a) Jika
rambut anak anda basah maka anak anda akan masuk angin
Faktanya, pakar kesehatan Jims Scars
mengatakan dari riset yang dilakukan di Inggris di mana setengah kelompok anak
di biarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan
kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam, kelompok yang berada di lorong tidak
mengalami pilek atau flu. “kedinginan belum tentu mempengaruhi sistem kekebalan
secara langsung”.
b) Anak
perlu makan ketika kedinginan dan meminum banyak air ketika demam
Hal
yang seharusnya adalah menjaga cairan tubuh merupakan hal terpenting yang harus
dilakukan, ketika seseorang banyak cairan maka semakin mudah terkena penyakit.
Meski demikian, anak tidak perlu mengkonsumsi minuman elektrolit bila tidak
mengalami dehidrasi atau diare.
c) Anak
akan kehilangan 75% panas tubuh melalui kepala
Mitos
macam itu berkembang karena keharusan kepala bayi yang baru lahir ditutupi
ketika cuaca dingin. Hal itu dibenarkan, karena kepala bayi memiliki prosentase
lebih besar daripada bagian tubuh lainnya. Akan tetapi, ketika sudah besar,
keluarnya panas melalui kepala hanya 10%, sisanya panas tubuh keluar melalui
kaki, lengan dan tangan.
DAFTAR PUSTAKA
Endang
& Elisabeth Siwi. 2015. Pokok – Pokok Ilmu Sosial dan Budaya Dasar pada
Kebidanan. Yogyakarta: Pustakabarupress.
Ahmadi,
Abu. 1991. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Renika Cipta.
Ali, Muhammad. 2007. Ilmu dan
Aplikasi Pendidikan. Jakarta: Imperial Bhakti Utama.





