Pages

sdsdsdfsfsff

Jumat, 01 Juli 2016

ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM KESEHATAN BAYI

            1.  Tradisi Pemberian Makan
Salah satu faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kondisi kesehatan bayi adalah makanan yang diberikan. Dalam setiap masyarakat ada aturan-aturan yang menentukan kuantitas, kualitas dan jenis-jenis makanan yang seharusnya dan tidak seharusnya dikonsumsi oleh anggota-anggota suatu rumah tangga, sesuai dengan kedudukan, usia, jenis kelamin dan situasi-situasi tertentu.
Misalnya, ibu yang sedang hamil tidak diperbolehkan atau dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tertentu; ayah yang bekerja sebagai pencari nafkah berhak mendapatkan jumlah makanan yang lebih banyak dan bagian yang lebih baik daripada anggota keluarga yang lain; atau anak laki-laki diberi makan lebih dulu daripada anak perempuan. Walaupun pola makn ini sudah menjadi tradisi ataupun kebiasaan, namun yang paling berperan mengatur menu setiap hari dan mendistribusikan makanan kepada keluarga adalah ibu; dengan kata lain ibu mempunyai peran sebagai gate-keeper dari keluarga.

            2. Pola Pemberian ASI

Walaupun pada masyarakat tradisonal pemberian ASI bukan merupakan permasalahan yang besar karena pada umumnya ibu memberiakan bayinya ASI, namun yang menjadi permasalahan adalah pola pemberian ASI yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan pertumbuhan bayi.
Di samping pola pemberian yang salah, kualitas ASI juga kurang. Hal ini disebabkan banyaknya pantangan terhadap makanan yang dikonsumsi si ibu baik pada saat hamil maupun sesudah melahirkan. Sebagai contoh, pada masyarakat Kerinci, ibu yang sedang menyusui pantang untuk menonsumsi bayam, ikan laut atau sayur nangka.
Di beberapa daerah ada yang memantangkan ibu yang menyusui untuk memakan telur. Adanya pantangan makanan ini merupakan gejala yang hampir universal berkaitan dengan konsepsi “panas dingin” yang dapat mempengaruhi keseimbangan unsur-unsur dalam tubuh manusia, tanah, udara, api dan air. Apabila unsure-unsur di dalam tubuh terlalu panas atau terlalu dingin maka akan menimbulkan penyakit. Untuk mengembalikan keseimbangan unsur-unsur tersebut maka seseorang harus mengkosumsi makanan atau menjalani pengobatan yang bersifat lebih “dingin” atau sebaliknya. Pada beberapa suku bangsa, ibu yang sedang menyusui kondisi tubuhnya di pandang dalam keadaan “dingin” sehingga ia harus memakan makanan yang “panas” dan menghindari makanan yang “dingin”. Hal ini sebaliknya harus dilakukan oleh ibu yang sedang hamil.

                  3.  Pengobatan dan Penyakit
Masalah kesehatan selalu berkaitan dengan dua hal, yaitu sistem teori penyakit dan sistem perawatan penyakit. Sistem teori penyakit lebih menekankan pada penyebab sakit, teknik-teknik pengobatan penyakit. Sementara sistem perawatan penyakit merupakan suatu institusi sosial yang melibatkan interaksi beberapa orang, paling tidak interaksi antar pasien dengan si penyembuh, apakah itu dokter atau dukun. Persepsi terhadap penyebab penyakit akan menentukan cara pengobatannya. Penyebab penyakit dapat dikategorikan ke dalam dua golongan, yaitu personalistik dan naturalistik. Penyakit-penyakit yang dianggap timbul karena adanya intervensi dari agen tertentu seperti perbuatan orang, hantu, mahluk halus dan lain-lain termasuk dalam golongan personalistik. Sementara yang termasuk dalam golongan naturalistik adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kondisi alam seperti cuaca, makanan, debu dan lain-lain.
Dari sudut pandang sistem medis modern adanya persepsi masyarakat yang berbeda terhadap penyakit seringkali menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh ada masyarakat pada beberapa daerah beranggapan bahwa bayi yang mengalami kejang-kejang disebabkan karena kemasukan roh halus, dan hanya dukun yang dapat menyembuhkannya. Padahal kejang-kejang tadi mungkin disebabkan oleh demam yang tinggi, atau adanya radang otak yang bila tidak disembuhkan dengan cara yang tepat dapat menimbulkan kematian.
Kepercayaan-kepercayaan lain terhadap demam dan diare pada bayi adalah karena bayi tersebut bertambah kepandaiannya seperti sudah mau jalan. Ada pula yang menganggap bahwa diare yang sering diderita oleh bayi dan anak-anak disebabkan karena pengaruh udara, yang sering dikenal dengan istilah “masuk angin”. Karena persepsi terhadap penyakit berbeda-beda , maka pengobatannya pun berbeda-beda. Misalnya, di suatu daerah di anggap bahwa diare ini disebabkan karena “masuk angin” yang dipersepsikan sebagai “mendinginnya” badan anak maka perlu diobati dengan bawang merah karena dapat memanaskan badan si anak.
Sesungguhnya pola pemberian makanan pada anak, etiologi penyakit dan tindakan kuratif penyakit merupakan bagian dari sistem perawatan kesehatan umum dalam masyarakat. Dikatakan bahwa dalam sistem perawatan kesehatan ini terdapat unsur-unsur pengetahuan dari sistem medis tradisional dan modern. Hal ini terlihat bila ada anak yang menderita sakit, maka si ibu atau anggota keluarga lain akan melakukan pengobatan sendiri (self treatment) terlebih dahulu, apakah itu dengan menggunakan obat tradisional ataupun obat modern. Tindakan pemberian obat ini merupakan tindakan pertama yang paling sering dilakukan dalam upaya mengobati penyakit dan merupakan satu tahap dari perilaku mencari penyembuhan atau kesehatan yang dikenal sebagai “health seeking behavior”. Jika upaya ini tidak berhasil, barulah dicari upaya lain misalnya membawa ke petugas kesehatan seperti dokter, mantra dan lain-lain. Mitos yang berkembang di masyarakat di antaranya, yaitu:
                   a)      Jika rambut anak anda basah maka anak anda akan masuk angin
Faktanya, pakar kesehatan Jims Scars mengatakan dari riset yang dilakukan di Inggris di mana setengah kelompok anak di biarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam, kelompok yang berada di lorong tidak mengalami pilek atau flu. “kedinginan belum tentu mempengaruhi sistem kekebalan secara langsung”.
                  b)      Anak perlu makan ketika kedinginan dan meminum banyak air ketika demam
Hal yang seharusnya adalah menjaga cairan tubuh merupakan hal terpenting yang harus dilakukan, ketika seseorang banyak cairan maka semakin mudah terkena penyakit. Meski demikian, anak tidak perlu mengkonsumsi minuman elektrolit bila tidak mengalami dehidrasi atau diare.
                  c)      Anak akan kehilangan 75% panas tubuh melalui kepala
Mitos macam itu berkembang karena keharusan kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin. Hal itu dibenarkan, karena kepala bayi memiliki prosentase lebih besar daripada bagian tubuh lainnya. Akan tetapi, ketika sudah besar, keluarnya panas melalui kepala hanya 10%, sisanya panas tubuh keluar melalui kaki, lengan dan tangan.


DAFTAR PUSTAKA
Endang & Elisabeth Siwi. 2015. Pokok – Pokok Ilmu Sosial dan Budaya Dasar pada Kebidanan. Yogyakarta: Pustakabarupress.
Ahmadi, Abu. 1991. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Renika Cipta.
Ali, Muhammad. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Jakarta: Imperial Bhakti Utama.